top of page

Leading Stocks Point to Commodities Bull Market

  • Gambar penulis: Rio Adrianus
    Rio Adrianus
  • 18 Jan
  • 3 menit membaca

Setelah lebih dari 3 tahun yang mengecewakan, sektor komoditas diluar dari precious metal akan mengalami turn around signifikan di tahun 2026 ini. 2 saham US dibawah ini menjadi leading signal dari apa yang akan terjadi di komoditas energi dan agrikultur.

 

Saham pertama, Exxon Mobile (XOM) adalah salah satu perusahaan oil terbesar di dunia. Belum lama ini, CEO Exxon mendapat remark negatif dari Trump terkait Venezuela. Drama itu tidak penting. Chart Exxon mengatakan dengan jelas kalau investor Exxon tidak pernah seoptimistis seperti saat ini.


Exxon Mobile (XOM) at all time high & Crude Oil at lower low


All-time high di XOM ini memberi pertanyaan besar untuk oil trader: Apa ini artinya untuk harga crude oil ke depan?


Terjadi dislokasi antara harga crude oil dan XOM sejak September 2022. Pembaca EVA Brief tahu kalau saya memiliki banyak alasan untuk memberi emphasis di tanggal September/Oktober 2022. Logika sederhana mengatakan kalau kelanjutan kenaikan saham XOM baru masuk akal apabila haga crude oil naik – dan crude oil perlu naik banyak dari harga saat ini.


 

Chart kedua adalah Bunge (BG). Bunge adalah salah satu produsen vegetable oils (kecuali CPO) terbesar di dunia. Di Januari 2026 ini BG telah break-out dari channel paralel.


Bunge (BG) - Channel Breakout


Breakout dari channel ini terjadi di level dimana terjadi transaksi massive di Maret 2023 di hari terakhir perdagangan saham Credit Suisse. Kejadian ini adalah salah satu alasan besar mengapa saya percaya kalau ada inverse relationship antara komoditas (excluding precious metal) dengan saham big banks. Investor Indonesia akan ingat kalau pilar big banks terakhir di Indonesia bernama Bank BCA (BBCA) telah membuat market top di akhir tahun 2024. Di lain sisi, banyak komoditas dan sahamnya, termasuk BG (dan di Indonesia saham perusahaan CPO), telah membuat turning point di awal tahun 2025.


So, what’s next?


Kita telah melihat break-out signifikan di saham 2 perusahaan raksasa global yang menguasai produksi energy (XOM) dan agrikultur (BG). Dari pandangan saya, break-out di BG paling signifikan karena memiliki 2 event (horizontal level dan diagonal). Untuk alasan ini, kemungkinannya besar kalau kenaikan BG masih akan berlanjut. Di skenario ini, komoditas agrikultur - wheat, corn, soybean – saat ini sangat, sangat out-of-sync dengan BG, seperti halnya juga antara XOM dan crude oil. Out-of-sync antara harga komoditas dan saham perusahaan komoditas ini most likely akan menemukan sinkronisasi kembali dengan kenaikan komoditas yang jauh lebih tajam dari sahamnya.


Mata saya tetap terfokus terhadap saham bank, terutama JP Morgan (JPM). JPM adalah pilar big banks terakhir yang akan jatuh (dan mungkin sudah menemukan market topnya di Januari 2026 ini). Sharp decline JPM di tanggal 13 Januari 2026 menandakan kalau posisi short di crude oil semakin tidak bisa dipertahankan.


Saya percaya kalau harga crude oil saat ini ditekan dengan posisi short terbesar dalam sejarah a.k.a spekulasi di financial asset (crude oil futures contract), bukan transaksi physical crude oil. Posisi short spektakuler ini dilakukan dengan leverage tinggi yang dijaminkan dengan kolateral berupa aset financial lain – bukan cash. Ketika nilai kolateral berkurang, maka posisi highly leveraged shorts perlu dilepas. Likuidasi shorts yang sangat besar sangat rawan membuat lompatan harga crude oil, yang kemudian akan mentrigger margin call, dan membuat siklus likuidasi shorts berlanjut.


Jika skenario yang saya jelaskan terjadi, maka sektor CPO memberikan potential return yang unik. Ketika crude oil naik, semua komoditas (excluding precious metals) juga akan ikut naik, termasuk CPO.


Now, here is the best part: Sejak bull market CPO mulai terlihat di akhir tahun 2020, pemerintah Indonesia menerapkan tarif ekspor dan cukai untuk produk CPO di level yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tarif ini sangat menekan margin perusahaan CPO. Untuk pertama kalinya, perusahaan sawit dan sahamnya tidak booming ketika CPO booming.

Margin suppression ini adalah alasan besar mengapa harga saham CPO di Indonesia tertinggal jauh dari peers mereka di belahan dunia lain (seperti BG) hingga saat ini. Anda bisa melihat kondisi ini sebagai risiko atau opportunity. Saya percaya kalau di siklus commodity bull market berikutnya, perusahaan sawit sudah jauh lebih siap untuk mengamankan margin mereka. Jika mereka bisa melakukannya, maka saya menilai kemungkinannya besar kalau performance gap dengan global peers akan ditutup dengan cepat.


Apa yang saya katakan disini adalah saham komoditas global seperti BG hanya memiliki satu surprise factor, yaitu perubahan trend komoditas menjadi bull market. Di sisi lain, saham CPO Indonesia memiliki dua surprise factor: perubahan trend komoditas DAN perubahan tarif ekspor. Satu skenario dalam pemikiran saya terkait pajak ekspor adalah tidak ada perubahan tarif ON PAPER, tapi implementasinya semakin longgar – which is good for shareholders. Satu indikasi kalau MUNGKIN ini yang terjadi adalah lonjakan margin di tengah flat trend CPO price – seperti yang terjadi di LSIP tahun 2024.


Indonesia CPO tax rate (export tax + levy tax) & CPO price


 
 
 

Komentar


© 2024 by Rio Adrianus

  • Black Twitter Icon
bottom of page