CPO Equities: The Neglected Jewels (LSIP, AALI, BWPT)
- Rio Adrianus

- 4 Jun
- 7 menit membaca
Di awal Juni 2026 kemarin, Ruchir Sharma (pengarang ‘The Rise and Fall of Nations’ dan CIO Rockefeller International’) mengeluarkan kata ‘indifferent’ yang menarik perhatian saya. Konteksnya adalah Mr. Sharma melihat kondisi financial market saat ini yang sangat terpikat di tech sector dan indifferent dengan yang lain (Truth About The American Profit Machine. CNBC. 2 June 2026). Sentiment indifferent adalah hal yang terburuk yang bisa terjadi di suatu asset. Ini karena ketika sentiment yang mendominasi adalah indifferent, maka segala macam real economic improvement di cash flow yang mendukung asset tersebut menjadi….tidak penting. Saya percaya kata ‘indifferent’ adalah kata yang akurat dalam mendeskripsikan harga saham sektor CPO Indonesia saat ini.
Pandangan populer saat ini adalah ‘fear’ terkait potensi negatif ekspansi Danantara (DSI) ke ekspor komoditas, termasuk CPO. Saya tidak setuju. Dalam pandangan saya, investor sudah lama menjadi ‘indifferent’ di sektor CPO terutama sejak Juli 2023.
Saya akan menunjukan kondisi saham CPO saat ini yang sangat kontras dengan fundamental perusahaan dan harga CPO. Saya akan mengesampingkan dahulu isu DSI yang kalau sesuai agenda baru beroperasi di awal tahun 2027.
Figure 1 adalah data mentah balance sheet LSIP dari laporan keuangan 2025. Saya memberi tanda item ‘cash’.
Figure 1. LSIP Balance Sheet 2025

Di akhir tahun 2025, LSIP memiliki sekitar Rp 7.597 miliar (7,5 T) cash yang kebanyakan berupa deposito berjangka. LSIP hampir tidak memiliki utang berbunga. Dengan demikian, cash senilai Rp 7,5 T ini 100% milik pemegang saham LSIP. Jumlah saham beredar LSIP saat ini sebanyak 6,8 miliar saham. On a per share basis, nilai cash ini sebesar Rp 1.117/share (7.575/6,8). Berapa harga saham LSIP hari ini (4 Juni 2026)? Rp 1.185/share.
Dari angka di atas, kita bisa menyimpulkan kalau saat ini investor menilai keselurahan bisnis LSIP hanya sebesar cash LSIP yang ada di bank. Ini artinya dengan harga saham saat ini di 1.185, investor secara efektif menilai kalau nilai gabungan kebun sawit LSIP dan economic profit yang dihasilkannya adalah ZERO.
Tentu sangat tidak masuk akal untuk mengatakan kalau nilai kebun sawit salah satu perusahaan sawit terbesar di Indonesia adalah NOL rupiah. Jadi ini berarti investor menaruh ekspektasi kalau economic profit yang dihasilkan dari kebun sawit ke depan sangat negatif.
Bagaimana dengan realitanya? Figure 2 adalah estimasi economic profit (EVA) LSIP yang saya lakukan dari tahun 2015 - 2025.
Figure 2. LSIP EVA (Economic Value Added)

Voila! LSIP tidak hanya mencetak positive economic profit, tapi pecah rekor! That’s a fact.
Tapi harga saham adalah persepsi. Harga saham LSIP saat ini mengatakan investor sangat yakin kalau economic profit LSIP ke depan akan hancur. Sekarang terlalu mudah mengkambing hitamkan Danantara. Tapi bagaimana kalau pandangan umum saat ini salah? Bagaimana kalau apa yang terjadi adalah Danantara justru menjadi loophole export tax CPO yang selalu menghantui bull market CPO. Indeed, kalau seandainya tidak ada kebijakan export tax progressive, EVA LSIP saat ini jauh lebih tinggi. Who knows…dunia nyata penuh dengan paradoks. Apa yang saya cukup yakin adalah perusahaan-perusahaan sawit saat ini sudah memiliki 4-5 tahun persiapan untuk mempersiapkan fase bull market CPO berikutnya. Apabila langkah pemerintah membentuk DSI adalah big negative blow untuk perusahaan sawit, maka preparasi mereka sama sekali tidak bagus. Ada perkataan, “Fool me once, shame on you. Fool me twice, shame on me.” Manusia beradaptasi, dan greed adalah motivasi yang efektif untuk membuat perubahan. Dan terakhir…ini yang paling penting untuk saya. What’s the worst could happen? Di harga saham saat ini sebagai starting point, LSIP hanya dinilai sebatas cash yang ada di bank.
Saat ini argumen Danantara untuk menjustifikasi harga saham LSIP tidak bisa saya terima. DSI baru fungsional di awal tahun depan – itupun kalau sesuai target. Tidak ada yang tahu efek DSI di tahun depan. Argumen ini harus membuat asumsi kalau keberadaan Danantara berarti seperti menambah export tax. And another thing…the most important one: argumen ini bergantung terhadap asumsi kalau market berpandangan long-term…setidak-tidaknya sampai tahun depan ketika DSI aktif total. I laugh at this idea. No. I do not think so. Market is thinking in short-term.
Argumen Danantara sebagai penyebab kejatuhan saham sawit ini juga mengesampingkan satu kejadian penting di market: Saham BBCA juga ikut tumbang. IHSG tumbang. Belum lama ini saya mendengar penjelasan kalau penyebab IHSG tumbang adalah karena terseret jatuhnya saham-saham komoditas akibat DSI. I don’t think so. Investor veteran di saham komoditas Indonesia, baik itu batu-bara ataupun CPO tahu kalau terakhir sektor komoditas sudah tidak relevan terhadap pergerekan IHSG setidaknya sejak tahun 2015. Mulai dari tahun 2023, daftar tidak relevan ini bertambah satu: the old king, Unilever (UNVR).
Hipotesa saya seperti ini: Kejatuhan IHSG dan rupiah saat ini adalah reversal dari trend hot money global yang bersumber dari stimulus massive sejak COVID dan mendapat kehidupan kedua ketika perang Russia – Ukraine terjadi…dan mungkin ketiga ketika Israel masuk ke panggung. Tsunami likuiditas ini menciptakan asset bubble dimana-mana. All-time highs IHSG dan BBCA tidak akan terjadi tanpa likuiditas global ini. Well…fun times are over. Asset bubble global secara umum sudah mencapai puncaknya di Januari 2026. Bubble peak ini juga berlaku di Gold. Bubble peak ini terjadi ketika crude oil akhirnya membuat bottom. Bubble peak ini sudah terjadi sekitar 3 bulan sebelum Selat Hormuz ditutup. Apa yang kita alami sekarang adalah ‘asset bubble unraveling’ yang sedang masuk ke dalam tahap selanjutnya. Di dalam terminologi Elliott Wave, fase ini disebut awal dari ‘third wave’. Market Indonesia bisa dikatakan sebagai ‘leading market’. Third wave Indonesia dimulai di pertengahan April 2026. Selanjutnya, kita akan melihat hal yang serupa terjadi di market India Sensex (Figure 3). Kemudian, US, and so on.
Figure 3. IHSG vs Sensex (India)

Investor Indonesia yang menyukai sektor bank akan menyadari kalau first top September 2024 adalah market peak Bank Mandiri (BMRI) dan double top di Januari 2026 adalah market peak Bank BCA (BBCA).
Jadi, apa hubungan ‘asset bubble unraveling’ ini dengan saham-saham CPO? Saya balik ke cerita awal dimana Ruchir Sharma melihat kondisi market saat ini ‘indifferent’ kecuali di tech sector. Indeed, saham NVIDIA masih membuat all-time high. Asset bubble ini seperti piramida dimana NVIDIA adalah puncak piramida. Piramida ini mulai hancur dari bawah. Market Indonesia berada di layer bawah. Dibawahnya lagi adalah saham-saham CPO Indonesia. Investors just don’t care. Market tidak peduli apakah perusahaan-perusahaan ini semakin profitable seiring dengan kenaikan harga CPO. They just don’t care. Semuanya harus dijual untuk mempertahankan puncak piramida. Struktur piramida sekarang sudah berubah menjadi seperti tiang lurus dengan jewel NVIDIA di puncaknya.
Apa yang kemudian terjadi ketika akhirnya tiang lurus ini akhirnya terkikis lebih lanjut? That’s the big question! Jika analogi saya tepat, maka third wave di IHSG saat ini menandakan kalau tiang penyangga ini sudah semakin terkikis dengan cepat. Sell, sell, sell! The idol must not fall!... But it can not stop what is coming…
Ketika akhirnya alokasi capital mengikuti rasionalitas lagi, investor akan menemukan kalau mereka membuang banyak golden eggs untuk mempertahankan tech idol mereka. Banyak golden eggs ini berada di sektor komoditas, terutama CPO Indonesia yang dari awal berada di lapisan paling bawah piramida.
Tadi kita telah membahas LSIP – sebuah prime example yang memberikan kasus nyata dimana extraordinary moment (tech bubble) menciptakan valuasi jauh di bawah Book Value seperti yang dialami LSIP saat ini. Ini terjadi walaupun LSIP mengalami turnaraound EVA drastis dari tahun 2023. But it doesn’t matter, because investors just don’t care.
Situasi yang dialami LSIP juga terjadi di AALI dan BWPT (no surprise, semuanya adalah CPO producers) – walaupun economic profit improvement di AALI lebih lambat. Figure 4 menunjukan kalau mereka mendapat perlakuan investor yang sama – indifference.
Figure 4. LSIP, AALI, BWPT

Korelasi tinggi antar 3 saham CPO di atas memberi very high probability kalau trend reversal di salah satu saham juga akan diikuti oleh 2 saham lainnya. Saya telah membahas posisi harga LSIP saat ini relative terhadap kondisi real bisnisnya.
Tapi sebelum kita membahas perspektif lain dari AALI dan BWPT, saya akan memberi skenario dimana harga saham LSIP saat ini terjustifikasi – dan ini berarti kelanjutan bear market di sektor CPO.
DSI? I highly doubt it. Satu-satunya skenario yang bisa saya lihat dimana market saat ini betul dalam memberi harga di LSIP, AALI, dan BWPT adalah apabila harga CPO ke depan anjlok.
Figure 5 menampilkan harga CPO dengan harga soybean oil – barang substitusi. Keduanya dalam USD/ton. Monthly data dari tahun 2008.
Figure 5. CPO vs Soybean Oil (USD/T)

Huge gap! Data historis dan logika barang substitusi mengatakan kalau gap besar ini pada akhirnya akan mengecil secara drastis. Of course, kita perlu berspekulasi disini. Gap ini bisa ditutup dengan soybean oil turun tajam….atau dengan CPO yang naik tajam. Make a call. Jangan lupa kalau Selat Hormuz sudah 3 bulan ditutup dan sekarang negara-negara harus mencari alternatif diesel dari crude oil.
Figure 6 membawa perspektif Elliott Wave analysis di AALI. Jika value gap antara bisnis nyata dengan harga saham lebih mudah dilihat di LSIP, maka AALI memberikan struktur Elliott Wave yang paling jelas diantara saham CPO yang lain. Dari apa yang saya lihat, AALI baru saja menyelesaikan struktur korektif flat, dimana wave A = wave C (lihat box). Ada aspek geometri lainnya yang bisa dilihat dari garis diagonal. Wave C ini menyelesaikan struktur wave 2 dari struktur wave (3) yang lebih besar – yes, tema ‘third wave’ dari analisa sebelum ini masih berlaku. Expect relentless bull market apabila AALI menembus pivot high (wave 1) September 2025 di angka bagus 9.000.
Figure 6. AALI Elliott Wave Structure

Dari sisi teknikal, saham BWPT paling sulit dilihat. Di analisa sebelumnya saya menunjukan kalau di antara ketiga saham CPO yang saya monitor (LSIP, AALI, BWPT), BWPT menunjukan improvement EVA yang paling besar. Di tahun 2026 ini, BWPT berencana melakukan quasi-reorganization, yaitu menghapus nilai negatif equity di balance sheet. Of course, itu tidak mempengaruhi real business dan EVA, tapi membuka peluang kalau BWPT untuk pertama kalinya bisa membagi dividend.
Apa yang menonjol dari price action BWPT minggu ini adalah BWPT berada kembali di level 70-73. Signifikansi level 70 ini hanya dimengerti oleh investor lama. Saya telah membahasnya secara detail di analisa Juni 2023 (Reading Between The Lines of BWPT).
Untuk pembaca di masa depan, saya harap analisa ini bisa menjadi inspirasi jawaban untuk pertanyaan, “What does it take to buy at the bottom?”. For many, it is nearly impossible.
![Palm Oil (CPO) Stocks: The Third Wave [BWPT, LSIP, AALI]](https://static.wixstatic.com/media/9cbcba_0efae83b285043ab9cd3d60805293d5c~mv2.png/v1/fill/w_980,h_457,al_c,q_90,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/9cbcba_0efae83b285043ab9cd3d60805293d5c~mv2.png)


Komentar