Palm Oil (CPO) Stocks: The Third Wave [BWPT, LSIP, AALI]
- Rio Adrianus

- 3 hari yang lalu
- 6 menit membaca
Setelah hampir lebih dari 12 tahun yang sangat mengecewakan, saham CPO Indonesia akan mengalami bull market seperti yang pernah mereka alami di tahun 2005-2007. Kenaikan tajam crude oil di bulan Maret 2026 ini adalah pertanda kuat kalau kita berada di dalam ‘third wave’ di dalam dunia komoditas (kecuali gold & silver yang mengikuti ritme bubble mania sejak tahun 2022).
Ketika menyangkut saham spesifik, selalu ada variasi dalam wave count antar saham. Tapi kita bisa expect kalau saham individu akan mengalami sinkronisasi dengan sektornya ketika ‘third wave besar’ terjadi. Sinkronisasi sebelum menuju ke fase ‘third wave’ terjadi ketika crude oil lompat di awal Maret 2026 ketika Iran akhirnya menutup selat Hormuz.
Dalam pandangan saya, crude oil spike yang kita lihat saat ini adalah direct result dari margin call spektakuler. Analisa crude oil yang lebih detail beserta implikasinya ke market lain telah saya bahas ke dalam 2 analisa: “56: When The Second King Bottomed (Crude Oil)” dan “280: When The King Peaks (JP Morgan)”. Di kedua analisa itu saya membuat key forecast:
“Selama bull market JP Morgan masih berjalan, bear market di big banks lainnya seperti BBCA akan mengalami banyak rebound atau trading range. In addition, selama ‘the king of banking’ masih berjalan kuat, maka ‘the king of commodities’ – crude oil – belum berada di fase bull market. In turn, selama crude oil masih tersupresi, likuiditas belum mengalir ke saham-saham perusahaan komoditas, termasuk CPO di Indonesia, dan ini juga berlaku untuk perusahaan coal, nickel, oil, nat gas, dan agricultures.”
Supresi harga crude oil melalui short selling sekarang sudah backfired menghasilkan margin call yang kemudian membuat fund managers harus menjual aset. Aset awal yang dijual adalah kolateral yang digunakan untuk posisi short sell di crude oil. Kolateral ini kemungkinan besar adalah obligasi negara, terutama US dan EU bonds. Di hari Jumat 13 Maret 2026 kemarin, French 10y bond yield sudah membuat new high melewati pivot Oktober 2023 (pivot yang menandai awal kenaikan tajam bubble stocks & gold, tapi mengantar crude oil & nat gas ke lower low*).
Semua ini saya katakan untuk membuat point kalau forecast analisa saham CPO ini tidak hanya wave counting dan geometri. Ada banyak hal di belakang layar, termasuk analisa Economic Profit (EVA) yang belakangan tidak saya tampilkan lagi.
*Saya perlu mempoint out kalau harga Nat Gas di Februari 2024 lebih rendah dari low point ketika lockdown COVID terjadi. Extreme low ini terjadi walaupun perang Russia – Ukraine telah berhasil meledakan Nordstream pipeline – salah satu pipeline gas paling besar di Eropa. Bagaimana bisa? Jawaban saya: dengan spekulasi short selling yang luar biasa besar (ingat pivot Oktober 2023 yang memulai downwave ini). Selama lebih dari 3 tahun, narasi media memberi penjelasan ‘supply glut’. Di dalam narasi supply glut ini sepertinya spekulator besar sangat yakin kalau cadangan oil & gas memiliki kuantitas tidak terbatas.
Elliott Wave
Struktur EW di saham CPO lebih jelas terlihat di AALI (Chart 1). Selagi akan ada variasi wave count di saham spesifik (terutama di BWPT), tapi sinkronisasi yang akan terjadi di sepanjang ‘third wave’ yang akan kita alami sebentar lagi akan terlihat jelas untuk semua orang.
‘First wave’ berakhir di Januari 2021, di tengah-tengah bull market CPO 2020-2022. ‘Second wave’ yang jauh lebih lama dari beberapa perkiraan saya baru berakhir di antara Juni 2024 atau April 2025. Kedua pivot itu membentuk double bottom di AALI dan BWPT. Kedua pivot ini terjadi terlebih dahulu sebelum CPO membentuk pivot low (yang juga menjadi double bottom). Di bulan Juni 2024, saya membuat forecast berjudul “Geometrical Confluence in Palm Oil Stocks Is Here: AALI & LSIP”. Analisa itu menerangkan mengapa saya yakin kalau kedua saham itu sudah berada di ‘point of great interest’.
And now, here we are. Second wave sudah di belakang kita. Saham sawit (AALI dan LSIP) saat ini berada di dalam tahap awal ‘Third Wave’. Third Wave juga terdiri dari 5-wave structure. Di pertengahan bulan Maret 2026 ini kita berada dalam second wave di dalam Third Wave yang lebih besar. Jika Anda mengerti Elliott Wave, maka Anda mengerti kalau saya mengatakan kalau AALI dan LSIP akan memasuki fase ‘third of a third wave’. Dengan apa yang sudah terjadi di crude oil, saya pikir skenario ‘third of a third wave’ ini memiliki probability yang sangat tinggi.
Chart 1. AALI Elliott Wave Count

Wave count AALI di atas adalah kelanjutan dari analisa “AALI: Great Danger or Great Opportunity?” yang saya publish di Agustus 2023. Jika Anda membaca analisa itu dengan teliti, Anda akan tahu kalau EW chart 2023 itu adalah kelanjutan dari analisa Juli 2020. Yes, 6 years – in real time. Ketika saya membaca kembali analisa tahun 2020, rasanya seperti nostalgia. Things have changed, indeed.
Notice saya membuat triangle kecil di tahun 2020. Yes, triangle itu adalah basis analisa Elliott Wave saya di tahun 2020. Anda akan melihat triangle kembali di chart BWPT. Keberadaan struktur ini sangat berharga dalam membuat forecast.
BWPT
Selagi ‘market of interest’ saya di CPO adalah BWPT, tapi pengalamana saya membuat analisa Elliott Wave di BWPT sejauh ini adalah ‘losing streak’. Untuk alasan ini, fokus analisa EW dan technical methods lainnya berada di AALI dan LSIP. Dengan apa yang sudah terjadi di crude oil dan analisa lainnya di related markets (seperti AALI di atas), saya tidak membutuhkan analisa Elliott Wave di BWPT. Tapi informasi tambahan di point ini saya pikir bukan ide yang buruk. Informasi baru ini adalah struktur triangle yang terjadi di sepanjang Agustus 2025 (Chart 2).
Keberadaan triangle menandakan posisi ‘Fourth Wave’ di sebuah degree. And here’s the good part. Ketika koreksi besar terjadi, ‘Fourth Wave’ di degree yang lebih kecil seringkali menjadi area support signifikan – dan seringkali support ini berada di bagian bawah fourth wave. Di kasus BWPT, saya tidak peduli tingkat degree dimana terjadi triangle. Saya hanya perlu tahu kalau BWPT saat ini sudah hampir menyentuh bottom fourth wave di 112.
Chart 2. BWPT: Second Wave Into ‘The Fourth’ Bottom

Di samping itu, downswing BWPT juga membuat hubungan equality dengan prior downswing (lihat 2 box indentik di chart). Sebagai tambahan, level 112 juga adalah pivot low tahun 2015.
Sebagai note tambahan, jika Anda tidak bisa melihat hubungan chart BWPT dengan AALI, perhatikan 2 garis vertikal di bulan Juni 2024 dan April 2025. Sounds familiar? Lihat kembali chart AALI.
BWPT Fundamental
Rasanya sudah sangat lama saya tidak menulis analisa dari perspektif economic profit. Saya tidak berniat untuk membahas lebih dalam aspek fundamental. Mengapa? Karena bull market di saham CPO hanya bisa terjadi di fase bull market CPO yang hanya bisa terjadi di fase bull market crude oil. Crude oil going nowhere or lower? Forget it. AALI, LSIP, dan BWPT juga ikut going nowhere or lower. Tapi sekarang kenaikan crude oil sudah jelas terlihat. Now we can talk about fundamentals.
Chart 3 menunjukan perubahan drastis ROIC (Return on Invested Capital) BWPT dari tahun 2012 ketika harga saham BWPT sekitar 16x dari harga saat ini. ROIC menunjukan ‘A record-breaking improvement from a very negative performance’. Enough said.
Chart 3. BWPT ROIC (Return on Invested Capital)

Dimuali dari saat ini, revenue growth di BWPT akibat kenaikan harga sawit akan berimbas ke kenaikan ROIC yang saat ini sudah melebihi cost of capital. BWPT sudah berada di stage dimana growth akhirnya menjadi multiplier positive untuk economic profit (EVA). Kita bisa expect kenaikan EVA yang lebih tajam di bull market CPO yang akan datang.
Bonus Charts: Gann-Inspired Geometrical Analysis
Gann dan Luther Jensen memberi emphasis terhadap angle 45’ dan mengaitkannya dengan konsep ‘balance’ dalam analisa trend. Sebuah bull trend dianggap masih intact apabila harga masih di atas angle 45’. Terlepas dari isu bagaimana menentukan angle 45’, saya menemukan konsep ‘balance’ sangat menarik. Dibawah ini adalah ide saya mengenai konsep ‘balance’ ke dalam chart analysis LSIP dan AALI. Sorry, I have no intention of explaining. Tapi saya bisa memberi tahu apa yang saya ‘looking forward to’ di LSIP dan AALI.
LSIP

AALI

Untuk LSIP, saya menantikan apa yang terjadi ketika harga menembus garis merah dan hijau yang berada di atas harga LSIP saat ini. Sebagai tambahan, kita bisa expect kenaikan tajam LSIP (skenario ‘third of a third wave’) selama harga LSIP masih di atas garis hijau yang dianchor di pivot low Januari 2026.
Untuk AALI, saya menantikan apa yang akan terjadi ketika AALI menembus downtrendline putus-putus dan level 8.100 secara bersamaan. Downtrendline dan 8.100 membentuk intersection di awal April 2026. Berhubung hari libur lebaran, saya perlu memundurkan intersection ini menjadi pertengahan April 2026.



Komentar